Minggu, 02 Februari 2025

 BAB INDAHNYA BERAGAMA SECARA MODERAT

 A. Q.S. Al BAQARAH AYAT 143

 

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. ( Q.S. Al-Baqarah ayat :143 )

 

B.. Isi Kandungan Q.S. Al Baqarah ayat 143

  1. Umat Islam adalah Ummatan Wasaṭan. Artinya umat yang bersikap pertengahan / adil / moderat dalam melaksanakan ajaranya dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Kiblat umat Islam adalah Ka’bah di Mekah bukan lagi Baitul Maqdis di palestina,
  3. Sesungguhnya Alloh SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang

IMAN KEPADA NABI DAN RASUL ALLOH SWT

 

BAB MEYAKINI NABI DAN RASUL ALLOH SWT

 

 

A.     Pengertian Iman Kepada Rasul Alloh

Iman kepada Nabi / Rasul artinya meyakini bahwa Nabi / Rasul itu utusan Alloh SWT yang di beri wahyu dan ditugaskan untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan akhirat.

Pengertian Rasul dan Nabi berbeda. Rasul adalah manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Alloh SWT untuk dirinya sendiri dan mempunyai kewajiban untuk menyampaikan kepada umatnya. Nabi adalah manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Alloh SWT untuk dirinya sendiri tetapi tidak wajib menyampaikan pada umatnya. Dengan demikian seorang rasul pasti  nabi, tetapi nabi belum tentu rasul. Meskipun demikian kita wajib meyakini keduanya.

Firman Alloh SWT :

Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Alloh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh. ( Q.S. An Nisa ayat 136 )

 

B.      Sifat-sifat Rasul dan Nabi Alloh SWT

Seluruh nabi rasul memiliki sifat yang mulia dan sangat terpuji serta terhindar dari sifat-sifat tercela. Sifat-sifat terpuji yang dimiliki rasul disebut sifat wajib rasul, sedangkan sifat-sifat tercela yang tidak mungkin ada pada diri rasul disebut sifat mustahil .

 

Sifat Wajib Rasul

Sifat Mustahil Rasul

1.     Sidiq          :  Benar / Jujur

2.     Amanah     :  Dapat dipercaya

3.     Tabligh      :  Menyampaikan

4.     Fathonah    :  Cerdik / Pandai

 

1.     Kizib         : Dusta / Berkata bohong

2.     Khianah    : Tidak dapat dipercaya

3.     Kitman      : Menyembunyikan

4.     Baladah     : Bodoh

 

  

C.      Tugas Nabi / Rasul Alloh SWT

Firman Alloh SWT :

Berdasarkan Ayat Al Quran diatas tugas Nabi / Rasul diantaranya :

 

1.   Alloh mengutus rasul sebagai pembawa kebenaran ( wahyu Alloh )

2.   Alloh mengutus seorang rasul membawa kabar gembira ( bagi orang beriman berupa pahala / surga ) dan peringatan     ( bagi orang ingkar berupa siksaan- neraka )

3.   Alloh mengutus rasul sebagai suri tauladan / contoh baik dalam kehidupan manusia 

 D.      Rasul Ulul Azmi 

Rasul ulul azmi adalah utusan Alloh yang memiliki kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menyampaikan risalah kepada umatnya. Diantaran 25 nabi dan rasul, ada rasul yang di beri gelar ulul azmi, yaitu :

  1. Nabi Nuh As
  2. Nabi Ibrahim As
  3. Nabi Musa As
  4. Nabi Isa As
  5. Nabi Muhammad SAW 
E, Fungsi Iman Kepada Rasul Allah SWT 

1.   Dapat menambah keimanan kepada Alloh SWT 
2.    Mau mengamalkan apa yang disampaikan para rasul
3.    Mempercayai tugas-tugas yang dibawanya untuk disampaikan kepada umatnya
4.    Lebih mencintai dan menghormati rasul atas perjuangannya
5.    Memperoleh teladan yang baik untuk menjalani hidup  
  
TUGAS

 Tulis dan hafalkan 25 Nabi / Rasul yang wajib diketahui !

Jumat, 31 Januari 2025

Perbedaan Tahun Baru Hijrah dan Masehi

 PERBEDAAN  TAHUN BARU MASEHI & HIJRIAH “

1.       Asal Mula

Kalender Hijriah Setelah wafatnya Nabi Muhammad, diusulkan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang mengusulkan adalah tahun kelahiran Muhammad sebagai awal patokan penanggalan Islam. Ada yang mengusulkan pula awal patokan penanggalan Islam adalah tahun wafatnya Nabi Muhammad.Pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622. Dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriah adalah papirus di Mesir pada tahun 22 H.

Kalender masehi merupakan salah satu system penanggalan yang dibuat berdasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari (syamsiah solar system) yang penaggalannya dimulai semenjak kelahiran Nabi Isa Almasih as. (sehingga disebut Masehi ;Masihi). Nama lain dari kalender ini adalah kalender Milladiah (kelahiran).Tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskkitariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

2.      Penentuan Tanggal

Penentuan dimulainya sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

3.      Nama Bulan

Nama Bulan pada tahun Masehi

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

 A. Sejarah Tahun Baru Masehi

masehi

Seiring dengan waktu, tak terasa kita akan memasuki tahun baru 2025. Umumnya dalam rangka menyambut pergantian waktu, berbagai ragam dan cara dilakukan, mulai dengan cara meniup terompet, pesta kembang api, menghadiri tempat wisata , berfoya-foya dan ada juga mengikuti hawa nafsu dengan lawan jenis dsb. Islam memiliki pandangan sendiri tentang perayaan Tahun Baru Masehi milik umat Nasrani itu. Berikut beberapa hal yang berkatian dengan peringatan Tahun Baru Masehi :

A. Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

B. Alasan Larangan Merayakan Tahun Baru Masehi, antara lain :

  1. Merayakan tahun baru masehi berarti, berarti mengikuti kebiasan orang yahudi dan nasrani atau Tasyabuh, perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam . Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”(HR. Abu Dawud, Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam kitabnya Al-Iqtidha’ dan Fatawanya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2831 dan 6149). Ibnu Taimiyah rahimahullaah menyebutkan, bahwa menyerupai orang-orang kafir merupakan salah satu sebab utama hilangnya (asingnya syi’ar) agama dan syariat Allah, dan munculnya kekafiran dan kemaksiatan. Sebagaimana melestarikan sunnah dan syariat para nabi menjadi pokok utama setiap kebaikan. (Lihat: Al-Iqtidha’: 1/314).
  2. Sikap boros merupakan salah satu sikap perbuatan syetan. Merayakan hari raya dengan cara foya-foya, menghamburkan uang untuk membeli sesuatu yang mubazir ( petasan ), mengunjungi tempat hiburan merupakan perbuatan yang sia-sia. Hanya sebatas mengikuti hawa nafsu. Padahal suatu saat nanti, manusia pasti akan diminta pertanggungjawaban mengenai harta.
  3. Begadang dan berkumpul ditempat hiburan hingga larut malam, dapat melalaikan kepada Allah SWT. Apalagi dibarengi dengan perbuatan maksiat lainnnya, seperti pacaran dan perzinahan dikalangan remaja. Bukankah Allah SWT menciptakan malam agar manusia dapat beristirahat dan bermunajat doa kepada-Nya. Bukan untuk melakukan perbuatan yang sia-sia.

Sebagaian ulama ada yang berpendapat :

  • Apabila ada yang merayakan tahun baru masehi dalam rangka bersyukur kepada Allah SWT dan menginstropeksi diri kita , apa apa saja yang telah kita lakukan pada tahun lalu , kesalahan apa saja yang telah kita buat lalu kita memperbaikinya di tahun yang akan datang . Lalu diniatkan malam tahun baru untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan melakukan shalat tahajud pada malam pergantian tahun. Tanpa ikut larut serta dalam keramaian tahun baru. Hal ini boleh saja dilakukan.

Hanya saja bukankah ” Allah SWT telah menyuruh kepada manusia untuk intropeksi, berzikir , bersyukur, beribadah pada setiap waktu dan dimanapun kita berada. Dan Islam dengan jelas, telah menjelaskan tata cara bersyukur yang sesuai dengan ajaran Allah SWT , sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW “. Kita sebagai seorang muslim yang beriman hendaknya mengikuti apa-apa yang telah ditetapkan dalam Islam dan menjauhi larangannya. Wallahua’lam

Rabu, 22 Januari 2025

HUKUM MIM MATI

 A. Pengertian

     Hukum Mim mati adalah tatacara membaca mim mati dalam suatu bacaan. 

B. Pembagian Hukum Mim Mati

     Hukum Mim sukun dibagi menjadi 3 macam, antara lain:

1. Idghom Mitsli (Idghom Mimi)

 

Yaitu apabila mim mati bertemu mim, dibacanya dengan cara memasukan mim mati ke mim didepannya ( ditasydidkan ) dan memanjangkannya hingga 1 alif ( 2 Harkat )

Contoh:

كُنْتُمْ مُسْلِمِيْنَ     مْ – م

2. Ikhfa’ Syafawi

Yaitu apabila mim mati bertemu ba, dibacanya samar dan didengungkan hingga panjang 1 alif ( 2 Harkat )

Contoh:

تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ    مْ – ب

3. Idzhar Syafawi

Yaitu apabila mim mati bertemu salah satu huruf hijaiah selain mim dan b , dibacanya jelas dengan tidak dipanjangkan.

Contoh:

هُمْ نَا ئِمُوْنَ ( مْ – ن )   اَمْ لَمْ تُنْدِ رْ هُمْ    مْ – ت

HUKUM NUN MATI DAN TANWIN

 A. Pengertian

Hukum Nun Mati dan Tanwin maksudnya adalah tatacara membaca Nun Mati atau Tanwin dalam suatu bacaan. Tanwin adalah tanda baca yang menunjukan bahwa huruf terakhir kata diucapkan sepertti bertemu dengan huruf nun mati.”

B. Pembagian Hukum Nun Mati dan Tanwin

1.Idzhar

Menurut bahasa,arti idhar adalah jelas atau tampak. Sedangkan menurut istilah adalah melafadhkan huruf idhar dari makhrojnya dengan suara jelas atau terang dengan tanpa disertai mendengung (bilaghunnah)
Jumlah huruf idhar ada enam yaitu

  ء هـ ع ح غ خ

Huruf  diatas dinamakan juga dengan istilah “Halqi”,  dikarenakan keenam huruf tersebut tempat keluarnya adalah berada di tenggorokan. Cara membacanya : Jika ada nun mati atau tanwin yang bertemu dengan salah satu dari huruf halaq yang enam tersebut, maka harus dibaca dengan suara terang atau jelas, baik bertemunya itu dalam satu kalimat atau dilain kalimat.
Contoh :

َانْعَمْتَ    منْ ءَا َمنَ    رَسُوْلٌ أمِيْنٌ   مِنْهُمْ   اِنْ هُوَ    سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

2. Idghom

Idghom menurut bahasa adalah memasukkan sesuatu kepada sesuatu, sedangkan menurut istilah, idghom adalah bertemunya huruf yang mati dengan huruf yang hidup, sehingga ketika dibaca akan serupa dengan huruf yang bertasydid.
Macam-Macam Idghom
21. Idghom bighunnah :
Idghom artinya memasukkan sesuatu kepada sesuatu, Bi Ghunnah artinya dengan disertai suara dengung.Yaitu apabila ada nun mati atau tanwin yang bertemu dengan salah satu huruf empat, yaitu :

ي, ن , م , و

Cara membacanya : Huruf pertama yang berupa nun mati dan tanwin dimasukkan ke huruf yang kedua dengan disertai dengung .
Contoh :

منْ وَّرَاءِ هِمْ , هُدىً ِمنْ رَّبِّهِمْ , حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لكُمْ

Pengecualian
Idhar wajib : Apabila ada nun mati yang bertemu dengan huruf wawu atau ya’ dalam satu kalimat, maka yang demikian itu harus dibaca dengan terang atau jelas. Dikarenakan jika diidghomkan takut menyerupai dengan huruf Mudhoaf (huruf dua yang sama)

Contoh :

دُنْيَا , بُنْيَا نٌ , صِنْوَا نٌ , قِنْوَانٌ

22. Idghom bila ghunnah
Apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu dari dua huruf yaitu : ل dan ر
Cara membacanya : Huruf pertama yang berupa nun mati atau bertanwin dimasukkan kesalah satu dari dua huruf dengan tidak disertai suara dengung ( Bilaghunnah ).
Contoh :

ِمنْ رَّ ِبّهِمْ , غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ , هُدىً لِّلْمُتَّقِيْنَ , يُبَيِّنْ لَكُمْ

3. Iqlab
Arti menurut bahasa yaitu membalik atau menukar. Sedang menurut istilah adalah menjadikan huruf pada tempatnya huruf yang lain disertai dengan dengungan (ghunnah).
Apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ب. Cara membacanya huruf pertama yang berupa nun mati atau tanwin diganti/ditukar menjadi suara mim karena bertemu dengan huruf ب
Contoh:

منْ بعْدِ , ينْبُتُ , سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ

4. Ikhfa’
Apabila ada nun mati atau tanwin yang bertemu dengan salah satu huruf lima belas yaitu:

دُمْ طَيِّباٌ زِدْ فِى تُقىً ضَعْ ظَا لماً جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَا اَ كَمْ ثَن صِفْ ذَا

Cara membacanya: Huruf pertama yang berupa nun mati atau tanwin dibaca dengan suara samar karena bertemunya dengan salah satu huruf lima belas tersebut.
Cara membaca ikhfa dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
41. Aqrob (اقرب) adalah yang lebih dekat dengan idhar yaitu membacanya seperti idhar tetapi disertai dengung sehingga menjadi samar. Adapun hurufnya ada tiga yaitu ت , ط , د .
Contoh :

ُمنْتَهُوْنَ , يَنْطِقُوْنَ ,

42. Ab’ad (ابعد) adalah yang lebih jauh dari idhar yaitu ketika membaca sangat nampak dengungnya atau samarnya sehingga suara nun mati atau tanwin menjadi hilang sama sekali. Adapun hurufnya ada dua yaitu ق dan ك  . Contoh :

منْ قبل, منْك

43. Ausath (اوسط) adalah pertengahan antara ikhfa’ aqrob dan ikhfa’ ab’ad dalam hal kesamaran membacanya. Adapun hurufnya ada satu yaitu ف .Contoh :

ِمنْ فَضْل الله

Sedangkan selain dari huruf Ikfa’ Aqrob, Ab’ad dan Ausath boleh dibaca dengan dua wajah yaitu Aqrob atau Ausath
Contoh :

إِنْ جآءَ كم , يَنْظُرُوْنَ

 

Senin, 13 Januari 2025

A. Pengertian Iman Kepada Rasul Allah

Iman kepada rasul berarti meyakini bahwa rasul itu benar benar utusan Allah SWT yang di tugaskan untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan akhirat.

Pengertian rasul dan nabi berbeda. Rasul adalah manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah SWT untuk dirinya sendiri dan mempunyai kewajiban untuk menyampaikan kepada umatnya. Nabi adalah manusia pilihan yang di beri wahyu oleh Allah SWT untuk dirinya sendiri tetapi tidak wajib menyampaikan pada umatnya. Dengan demikian seorang rasul pasti nabi tetapi nabi belum tentu rasul. Meskipun demikian kita wajib meyakini keduanya.

Firman Allah SWT :
al anam 6-crop

  • “Dan kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan.Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(QS. Al An’am 6 : 48)

B. Nama Nama Rasul Allah Dan Sifat Sifatnya

Rasul rasul yang wajib diimani berjumlah 25 orang:

1. Adam As    6. Ibrahim As  11. Yusuf As  16. ZulkiFli As  21. Yunus As

2. Idris As     7. Luth As     12. Ayub As   17. Daud As    22. Zakaria As

3. Nuh As      8. Ismail As   13. Syu’aib As 18. Sulaiman As 23. Yahya As

4. Hud As      9. Ishaq As    14. Musa As  19. Ilyas As     24. Isa As

5. Sholeh As   10. Yaqub As  15. Harun As  20. Ilyasa As    25. Muhammad Saw

Seluruh rasul mempunyai sifat yang sangat terpuji dan terhindar dari sifat-sifat tercela. Sifat-sifat terpuyji yang harus dimiliki rasul disebut sifat wajib rasul, sedangkan sifat-sifat tercela yang tidak mungkin ada pada diri rasul disebut sifat mustahil para rasul.

Sifat wajib ada 4 antara lain :

  1. Sidiq            : berkata benar
  2. Amanah     : dapat dipercaya
  3. Tabligh       : menyampaikan
  4. Fathonah   : cerdik,pandai

Sedang sifat mustahil bagi rasul yaitu :

  1. Kizib           : berkata bohong
  2. Khianah    : tidak dapat dipercaya
  3. Kitman      : menyembunyikan
  4. Baladah     : bodoh

C. Dalil –dalil Tentang Iman kepada Rasul Allah SWT

1. Allah mengutus rasul sebagai pembawa kebenaran ( wahyu Allah )
al ahzab 3

  • “Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan Telah ada padanya seorang pemberi peringatan” (Fathir : 24)

2. Allah mengutus rasul sebagai suri tauladan
al ahzab 2

  • “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi yang mengharab rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab: 21 )

3. Allah mengutus seorang rasul membawa kabar gembira danperingatan
al ahzab 1

  • “Wahai nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.”(Al-Ahzab: 45)

D. Rasul Ulul Azmi

Rasul ulul azmi adalah utusan Allah yang memiliki kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menyampaikan risalah kepada umatnya.

Diantaran 25 nabi dan rasul, ada rasul yang di beri gelar ulul azmi, yaitu :

  1. Nabi Nuh As
  2. Nabi Ibrahim As
  3. Nabi Musa As
  4. Nabi Isa As
  5. Nabi Muhammad SAW

E. Fungsi Iman Kepada Rasul Allah SWT

  1. Bertambah iman kepada Allah SWT dengan mengetahui bahwa rasul benar-benar manusia pilihan Allah
  2. Mau mengamalkan apa yang disampaikan para rasul
  3. Mempercayai tigas-tugas yang dibawanya untuk disampaikan kepada umatnya
  4. Lebih mencintai dan menghormati rasul atas perjuangannya
  5. Memperoleh teladan yang baik untuk menjalani hidup

RPP Deep Learning atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mendalam adalah rancangan pembelajaran yang bertujuan agar siswa tidak hanya menghaf...